Sejarah

Sejarah Kompilasi dan Kodifikasi Hadist Nabawi
Oleh : Muttaqin Salam, Aan Handriyani, dan Abu Hurairah

Sunnah adalah salah satu unsur terpenting dalam Islam. Ia menempati martabat kedua -setelah Al-Qur`an- dari sumber-sumber hukum Islam. Dalam artian, jika suatu masalah atau kasus terjadi di masyarakat, tidak ditemukan dasar hukumnya dalam al-Qur`an, maka hakim ataupun mujtahid harus kembali kepada Hadits Nabi -Shallallahu ‘Alaihi Wasallam-. Dalam praktek banyak sekali ditemukan masalah yang tidak dimuat dalam Al-Qur`an dan hanya didapatkan ketentuannya di dalam Hadits Nabi. Hal ini tak terlalu sulit dipahami, sebab Al-Qur`an adalah Kitab Allah yang hanya memuat ketentuan-ketentuan umum, prinsip-prinsip dasar dan garis-garis besar masalah. Sedangkan rinciannya dituangkan di dalam Sunnah Nabi. Dan memang harus demikian. Sebab jika tidak, sulit dibayangkan Al-Qur`an akan menjadi setebal apa. Karena ia harus memuat bermacam-macam masalah kecil dan parsial yang tak ada batasnya.
Masalah-masalah agama yang tidak dirinci Al-Qur`an itu pada umumnya dapat ditemukan di dalam Hadits Nabi. Umpamanya aturan pelaksanaan shalat, puasa, zakat, haji yang merupakan rukun Islam, tidak dijelaskan rinciannya dalam Al-Qur`an, akan tetapi dijabarkan secara detail oleh Sunnah Nabi SAW. Demikian pula aturan mu’amalat dan transaksi, pelaksanaan hukuman pidana, aturan moral dan lainnya. Dari sini dapat ditangkap betapa urgensinya hadits dalam kehidupan berIslam ini. Tak berlebihan jika dikatakan bahwa bagian terbesar dari konsep Islam didapati di dalam sunnah.
Pada dasarnya kegiatan tulis-menulis sudah ada sejak zaman jahiliyah, walupun masih dalam jumlah yang sangat terbatas. Begitu pula ketika masa Rasulullah, banyak umat Islam yang membaca dan menulis. Bahkan disebutkan dalam riwayat bahwa Rasulullah SAW mempunyai 40 orang penulis wahyu di samping penulis hal-hal lainnya.

A. Kontradiksi Penulisan Hadist pada masa Rasul
Adapun penulisan hadist di zaman Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, akan dijumpai beberapa hadist dari beliau yang kontradiktif, beberapa diantaranya berisikan anjuran dan pembolehan penulisan hadist-hadist nabawiyah, dan lainnya berisikan larangan. Ketika Rasulullah SAW. wafat, Al-Quran telah dihafalkan dengan sempurna oleh para sahabat. Selain itu, ayat-ayat suci AI-Quran seluruhnya telah lengkap ditulis, hanya saja belum terkumpul dalam bentuk sebuah mushaf. Adapun hadist atau sunnah dalam penulisannya ketika itu kurang memperoleh perhatian seperti halnya Al-Quran. Penulisan hadist dilakukan oleh beberapa sahabat secara tidak resmi, karena tidak diperintahkan oleh Rasul sebagaimana ia memerintahkan mereka untuk menulis AI-Quran. Diriwayatkan bahwa beberapa sahabat memiliki catatan hadist-hadist Rasulullah SAW. Mereka mencatat sebagian hadist-hadist yang pernah mereka dengar dari Rasulullah SAW.
Diantara hadist yang mengisyaratkan adanya pembolehan bahkan anjuran penulisan hadist, hadist ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-’Ash – radhiallahu ‘anhuma (Diriwayatkan oleh Abu Daud dalam As-Sunan no.3646, Imam Ahmad dalam Al-Musnad 2 / 207, Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf 9/49 dan Al-Hakim dalam Al-Mustadrok 1 / 105 ) Baca lebih lanjut

Hal yang merusak hati

OLEH
SHEKH ABDUL AZIZ BIN
ABDULLAH BIN BAZ

بسم الله الرحمن الرحيم

HAL- HAL YANG MEMBATALKAN
KEISLAMAN
Compiled by qohwah@yahoo.com

Segala puji bagi Allah  , Shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada nabi yang terahir Muhammad , para keluarga dan para Sahabat beliau, serta kepada orang- orang yang setia mengikuti petunjuk beliau.
Selanjutnya : ketahuilah, wahai saudaraku kaum muslimin, bahwa Allah  telah mewajibkan kepada seluruh hamba – hambaNya untuk masuk ke dalam agama Islam dan berpegang teguh denganya serta berhati –hati untuk tidak menyimpang darinya.
Allah juga telah mengutus NabiNya Muhammad  untuk berdakwah ke dalam hal ini, dan memberitahukan bahwa barang siapa bersedia mengikutinya akan mendapatkan petunjuk dan barang siapa yang menolaknya akan sesat.
Allah juga mengingatkan dalam banyak ayat- ayat Al-Qur’an untuk menghindari sebab- sebab kemurtadan, segala macam kemusyrikan dan kekafiran.
Para ulama rahimahumullah telah menyebutkan dalam bab hukum kemurtadan, bahwa seorang muslim bisa di anggap murtad ( keluar dari agama Islam) dengan berbagai macam hal yang membatalkan keislaman, yang menyebabkan halal darah dan hartanya dan di anggap keluar dari agama Islam.
Yang paling berbahanya dan yang paling banyak terjadi ada sepuluh hal, yang di sebutkan oleh Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab dan para ulama lainnya, dan kami sebutkan secara ringkas, dengan sedikit tambahan penjelasan untuk anda, agar anda dan orang – orang selain anda berhati hati dari hal ini, dengan harapan dapat selamat dan terbebas darinya.
Pertama:
Diantara sepuluh hal yang membatalkan keislaman tersebut adalah mempersekutukan Allah  ( syirik ) dalam beribadah.
Allah  berfirman:

Artinya : “ Sesungguhnya Allah  tidak mengampuni dosa syirik(menyekutukan) kepadaNya, tetapi mengampuni dosa selain itu, kepada orang – orang yang dikehendakinya “.( Annisa’ ayat : 116)

Allah  berfirman:

Artinya: “ sesungguhnya orang yang mempersekutukan Allah, niscaya Allah akan mengharamkan surga baginya, dan tempat tinggalnya (kelak) adalah neraka, dan tiada seorang penolong pun bagi orang – orang zhalim” .( Al- Maidah : 72).

Dan di antara perbuatan kemusyrikan tersebut adalah ; meminta do’a dan pertolongan kepada orang- orang yang telah mati, bernadzar dan menyembelih korban untuk mereka. Baca lebih lanjut