Sejarah

Sejarah Kompilasi dan Kodifikasi Hadist Nabawi
Oleh : Muttaqin Salam, Aan Handriyani, dan Abu Hurairah

Sunnah adalah salah satu unsur terpenting dalam Islam. Ia menempati martabat kedua -setelah Al-Qur`an- dari sumber-sumber hukum Islam. Dalam artian, jika suatu masalah atau kasus terjadi di masyarakat, tidak ditemukan dasar hukumnya dalam al-Qur`an, maka hakim ataupun mujtahid harus kembali kepada Hadits Nabi -Shallallahu ‘Alaihi Wasallam-. Dalam praktek banyak sekali ditemukan masalah yang tidak dimuat dalam Al-Qur`an dan hanya didapatkan ketentuannya di dalam Hadits Nabi. Hal ini tak terlalu sulit dipahami, sebab Al-Qur`an adalah Kitab Allah yang hanya memuat ketentuan-ketentuan umum, prinsip-prinsip dasar dan garis-garis besar masalah. Sedangkan rinciannya dituangkan di dalam Sunnah Nabi. Dan memang harus demikian. Sebab jika tidak, sulit dibayangkan Al-Qur`an akan menjadi setebal apa. Karena ia harus memuat bermacam-macam masalah kecil dan parsial yang tak ada batasnya.
Masalah-masalah agama yang tidak dirinci Al-Qur`an itu pada umumnya dapat ditemukan di dalam Hadits Nabi. Umpamanya aturan pelaksanaan shalat, puasa, zakat, haji yang merupakan rukun Islam, tidak dijelaskan rinciannya dalam Al-Qur`an, akan tetapi dijabarkan secara detail oleh Sunnah Nabi SAW. Demikian pula aturan mu’amalat dan transaksi, pelaksanaan hukuman pidana, aturan moral dan lainnya. Dari sini dapat ditangkap betapa urgensinya hadits dalam kehidupan berIslam ini. Tak berlebihan jika dikatakan bahwa bagian terbesar dari konsep Islam didapati di dalam sunnah.
Pada dasarnya kegiatan tulis-menulis sudah ada sejak zaman jahiliyah, walupun masih dalam jumlah yang sangat terbatas. Begitu pula ketika masa Rasulullah, banyak umat Islam yang membaca dan menulis. Bahkan disebutkan dalam riwayat bahwa Rasulullah SAW mempunyai 40 orang penulis wahyu di samping penulis hal-hal lainnya.

A. Kontradiksi Penulisan Hadist pada masa Rasul
Adapun penulisan hadist di zaman Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, akan dijumpai beberapa hadist dari beliau yang kontradiktif, beberapa diantaranya berisikan anjuran dan pembolehan penulisan hadist-hadist nabawiyah, dan lainnya berisikan larangan. Ketika Rasulullah SAW. wafat, Al-Quran telah dihafalkan dengan sempurna oleh para sahabat. Selain itu, ayat-ayat suci AI-Quran seluruhnya telah lengkap ditulis, hanya saja belum terkumpul dalam bentuk sebuah mushaf. Adapun hadist atau sunnah dalam penulisannya ketika itu kurang memperoleh perhatian seperti halnya Al-Quran. Penulisan hadist dilakukan oleh beberapa sahabat secara tidak resmi, karena tidak diperintahkan oleh Rasul sebagaimana ia memerintahkan mereka untuk menulis AI-Quran. Diriwayatkan bahwa beberapa sahabat memiliki catatan hadist-hadist Rasulullah SAW. Mereka mencatat sebagian hadist-hadist yang pernah mereka dengar dari Rasulullah SAW.
Diantara hadist yang mengisyaratkan adanya pembolehan bahkan anjuran penulisan hadist, hadist ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-’Ash – radhiallahu ‘anhuma (Diriwayatkan oleh Abu Daud dalam As-Sunan no.3646, Imam Ahmad dalam Al-Musnad 2 / 207, Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf 9/49 dan Al-Hakim dalam Al-Mustadrok 1 / 105 )
Bahwa beliau suatu hari meminta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menyalin hadist-hadist Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam , beliau berkata, “Bolehkan saya menulis setiap yang saya dengar dari anda?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Iya, tidak mengapa.” Beliau berkata lagi, “Walau engkau dalam keadaan ridho maupun marah?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Ya, karena sesungguhnya aku hanya mengatakan kebenaran.”
Demikian pula ketika seorang shahabat meminta dituliskan suatu hadist yang disampaikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam maka beliau bersabda:
“Tuliskanlah –hadits tersebut- bagi Abu Syaah.”( Diriwayatkan oleh Al-Bukhori dalam Shahih beliau no. 2434 dan Imam Muslim 2/988 )
Diantara sahabat-sahabat Rasulullah yang mempunyai catatan-catatan hadist Rasulullah adalah Abdullah bin Amr bin AS yang menulis, sahifah-sahifah yang dinamai As-Sadiqah. Sebagian sahabat menyatakan keberatannya terhadap pekerjaan yang dilakukan oleh Abdullah itu Mereka beralasan bahwa Rasulullah telah bersabda.
لا تكتبوا عني شيئا إلا القرآن ، من كتب عني شيئا سوى القرآن فليمحه )رواه مسلم)
“Janganlah kamu tulis apa-apa yang kamu dengar dari aku selain Al- Quran. Dan barang siapa yang lelah menulis sesuatu dariku selain Al- Quran, hendaklah dihapuskan. ” (HR. Muslim)
Sebagian ulama yang lain berpendapat bahwa Rasulullah tidak menghalangi usaha para sahabat menulis hadist secara tidak resmi. Mereka memahami hadist Rasulullah SAW. di atas bahwa larangan Nabi menulis hadist adalah ditujukan kepada mereka yang dikhawatirkan akan mencampuradukan hadist dengan AI-Quran Sedangkan izin hanya diberikan kepada mereka yang tidak dikhawatirkan mencampuradukan hadist dengan Al-Quran. Oleh karena itu, setelah Al-Quran ditulis dengan sempurna dan telah lengkap pula turunannya, maka tidak ada larangan untuk menulis hadist. Tegasnya antara dua hadist Rasulullah di atas tidak ada pertentangan manakala kita memahami bahwa larangan itu hanya berlaku untuk orang-orang tertentu yang dikhawatirkan mencampurkan AI-Quran dengan hadist, dan mereka yang mempunyai ingatan atau kuat hafalannya. Dan izin menulis hadist diberikan kepada mereka yang hanya menulis sunah untuk diri sendiri, dan mereka yang tidak kuat ingatan atau hafalannya.
Para sahabat dalam menerima hadist dari Nabi SAW. berpegang pada kekuatan hafalannya, yakni menerimanya dengan jalan hafalan, bukan dengan jalan menulis hadist dalam buku. Sebab itu kebanyakan sahabat menerima hadist melalui mendengar dengan hati-hati apa yang disabdakan Nabi. Kemudian terekamlah lafal dan makna itu dalam sanubari mereka. Mereka dapat melihat langsung apa yang Nabi kerjakan. atau mendengar pula dari orang yang mendengarnya sendiri dari nabi, karena tidak semua dari mereka pada setiap waktu dapat mengikuti atau menghadiri majelis Nabi. Kemudian para sahabat menghafal setiap apa yang diperoleh dari sabda-sabdanya dan berupaya mengingat apa yang pernah Nabi lakukan, untuk selanjutnya disampaikan kepada orang lain secara hafalan pula. Hanya beberapa orang sahabat saja yang mencatat hadist yang didengarnya dari Nabi SAW. Di antara sahabat yang paling banyak menghafal/meriwayatkan hadis ialah Abu Hurairah. Menurut keterangan Ibnu Jauzi bahwa hadist yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah sejumlah 5.374 buah hadis. Kemudian para sahabat yang paling banyak hafalannya sesudah Abu Hurairah ialah:
1. Abdullah bin Umar r.a. meriwayatkan 2.630 buah hadis.
2. Anas bin Malik meriwayatkan 2.276 buah hadis.
3. Aisyah meriwayatkan 2.210 buah hadis.
4. Abdullah ibnu Abbas meriwayatkan 1.660 buah hadis.
5. Jabir bin Abdullah meriwayatkan 1.540 buah hadis.
6. Abu Said AI-Khudri meriwayatkan 1.170 buah hadis.
Dan Imam Al-Baihaqi meriwayatkan dalam Al-Madkhal, dari ‘Urwah bin Az-Zubair, bahwa Umar bin Al-Khaththab berkehendak menuliskan kumpulan as-sunnah, maka beliau bermusyawarah dengan para shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dan merekapun membolehkan untuk menuliskannya. Maka Umar berdiam diri selama sebulan istikharah kepada Allah, dan pada suatu pagi dimana Allah telah memberika kekuatan hati untuk beliau, beliau berkata, “Sesungguhnya aku telah berkeinginan untuk menulis kumpulan as-sunnah, namun aku teringat dengan kaum sebelum kalian, mereka menuliskan beberapa kitab dan terfokuskan hanya padanya, dan merekapun meninggalkan Kitabullah, dan demi Allah , aku tidak akan mengaburkan Kitabullah dengan sesuatupun selamanya. “
B. Penulisan Hadist era Sahabat Besar dan Khulafa’ur Rasyidin
Pada generasi selanjutnya, yakni zaman sepeninggal Rasulullah SAW, mayoritas shahabat telah meriwayatkan hadist-hadist Nabi dari tulisan mereka, diantaranya yang disebutkan oleh Imam Al Bukhori dalam Shahih beliau pada Kitab Jihad, bab. Ash-shabru ‘alal-qitaal, menyebutkan hadist ‘Abdullah bin Abi Aufa –radhiallahu ‘anhu- yang merupakan penyaduran dalam bentuk tulisan tangan beliau, lalu dikirimkan kepada Salim, dimana berisikan, “Sesungguhnya Rasulullah SAW di hari-hari berhadapan dengan musuh, beliau menunggu hingga matahari menjadi condong, …” . Demikian pula Samurah bin Jundub – radhiallahu ‘anhu, telah menghimpun banyak hadist dalam bentuk manuskrip dan diriwayatkan oleh putera beliau Sulaiman. Jabir bin ‘Abdillah –radhiallahu ‘anhu juga memiliki beberapa tulisan hadist Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan Sa’ad bin ‘Ubadah Al Anshari juga memiliki himpunan hadist Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam bentuk catatan.
Pada periode ini periwayatan sunnah dari Rasulullah SAW tidaklah terkenal, dan sunnah pun tidak dibukukan dalam satu buku untuk tempat kembali (maraji’). Sehingga apabila ada mufti dihadapkan pada suatu peristiwa dan mereka tidak mendapatkan nash dalam kitabullah maka mereka bertanya pada orang yang bersama mereka, apakah mereka mendengar putusan Nabi SAW dalam masalah itu?. Seringkali di hadapan mereka terdapat orang yang meriwayatkan hadist bagi mereka, dan mereka berfatwa dengannya apabila membenarkan riwayat tersebut. Seperti Umar r.a. yang selalu minta dari perawi akan orang yang menemaninya dalam mendengar hadist dan Ali bin Abi Thalib selalu menyumpah perawi. Di masa kekhilafahan Khulafa’ur Rasyidin periwayatan sangat sedikit dan agak lambat, terutama masa Abu Bakar dan Umar r.a. Periwayatan hadist dilakukan dengan sangat hati-hati dan tidak sembarangan. Hal ini disebabkan kecenderungan mereka secara umum untuk menyedikitkan riwayat, di samping itu supaya sunnah terjaga dan terpelihara dari kekeliruan.
Ketelitian dan kehati-hatian dalam menerima sebuah hadist tidak hanya terlihat pada para khulafa’ur rasyidin saja, tetapi terlhat juga pada sahabat yang lainnya. Sikap ini diikuti pula oleh generasi selanjutnya dari kalangan tabi’in khususnya yang berada di Basrah. Mereka selalu mengadakan konfirmasi dengan para sahabat yang ada di Madinah tentang keaslian hadist. Sekalipun mereka menerima hadist tersebut dari para sahabat, karena para tabi’in masih merasa perlu mengecek hadist kepada sahabat yang lain.

C. Penulisan Hadist era Sahabat Kecil dan Tabi’in
Periode ini dimulai pada pemerintahan Mu’awiyah bin Abu Sufyan tahun 41 H. Pada masa ini penghalang periwayatan hadist telah hilang. Sahabat-sahabat yang masih ada setelah khulafa’ur rasyidin, menjadi tempat pemberhentian dalam meminta fatwa dan belajar. Manusia mempunyai kebutuhan baru yang mana mereka terpaksa untuk membahas hukum-hukum karena luasnya kota, dan tempat perlindungan mereka hanyalah para sahabat dan tabi’in-tabi’in besar yang dipenuhi untuk berfatwa. Mereka berfatwa dengan hadist-hadist yang mereka hafal. Para pemberi fatwa pada masa ini mempunyai hadist-hadist dalam jumlah yang besar yang diriwayatkan dari mereka.
Musnad Abu Hurairah misalnya tertulis dalam 313 halaman dari musnad imam Ahmad bin Hambal. Musnad Abu Bakar tertulis pada 84 halaman, musnad Umar tertulis dalam 41 halaman. Sementara Ali tertulis dalam 85 halaman. Hadist-hadist ini tidak terkumpul dalam satu negeri, bahkan tidak dalam satu buku karena sahabat yang berfatwa telah berpisah-pisah pada negara-negara besar. Penduduk negara besar meriwayatkan dari sahabat yang tinggal di situ, maka pada setiap negara besar mempunyai hadist yang tidak ada pada negeri lain. Adapun pada generasi tabi’in, penulisan hadist semakin masyhur diantara mereka, dan banyak dari para tabi’in meriwayatkan hadist-hadist Rasulullah SAW dalam bentuk tulisan tangan. Walaupun demikian ada juga beberapa tabi’in yang tidak menyukai periwayatan hadist dalam bentuk naskah tulisan. Diantara yang tidak menyenangi penulisan hadist di generasi tersebut, Muhammad bin Siriin al Bashri. Pernah beliau mengatakan, “Orang dulu berpendapat bahwa bani Israil menjadi sesat karena kitab-kitab yang mereka warisi.” Dan beliau bertanya kepada ‘Ubaidah, “Bolehkah saya menulis hadist yang telah saya dengarkan darimu ?” ‘Ubaidah menjawab, “Tidak“ Beliau berkata lagi, “Adakah engkau memiliki sebuah kitab yang dapat aku pelajari ?” Berkata ‘Ubaidah, “Tidak”
Namun di saat berlainan beliau sendiri membolehkan penulisan hadist selama seorang muhaddits yang menulis hadist ini berupaya menghafalkan hadist-hadist yang dia tulis, setelah itu catatan tersebut dibuang. Dan juga beliau berkata ketika ditanyakan kepada beliau perihal manuskrip Samurah yang diriwayatkan oleh putera beliau, “Dalam risalah Samurah kepada puteranya terdapat banyak ilmu.” Dan beberapa lainnya yang menolak penulisan hadist dengan argumen bahwa pada masa tersebut belum dianggap penting adanya penulisan hadist, mereka diantaranya adalah ‘Ubaidah bin ‘Amr As-Salmani, Ibrahim bin Yazid At-Taimi, Jabir bin Zaid dan Ibrahim bin Yazid An-Nakha’i.
Adapun para Ulama tabi’in, yang menuliskan hadist-hadist Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, baik itu menyadur dari beberapa shahifah para shahabat, ataukah menyalin hadist yang didiktệkan kepada mereka sangatlah banyak, diantara mereka Sulaiman bin Jundub bin Janabah yang meriwayatkan naskah bapak beliau, Sulaiman bin Qais Al-Yasykuri yang meriwayatkan hadist-hadist Jabir dalam masalah manasik Haji. Muhammad bin Al-Hanafiyah, Muhammad bin ‘Ali Abu Ja’far Al-Baqir, dan ‘Abdullah bin Muhammad bin ‘Aqil mereka juga para tabi’in yang merupakan murid-murid Jabir yang mencatat hadits-hadist beliau.
Sebagian besar Ulama pada generasi tabi’in ini membolehkan penulisan hadist, terutama tabi’in pada generasi pertengahan. Mereka diantaranya , Sa’id bin Al-Musayyaab, Asy-Sya’bi, ‘Abdurrahman bin Harmalah, Mujahid bin Jabr Al-Makki, Atha’ bin Rabah, Qatadah bin Du’amah As-Sadusi, hingga akhirnya secara resmi penulisan hadist diperintahkan di zaman khilafah Umar bin ‘Abdul ‘Azis. Beliau memerintahkan Abu Bakar bin Muhammad bin ‘Amr bin Hazm untuk menyalin hadist-hadist dan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, juga hal yang sama beliau perintahkan kepada Muhammad bin Muslim bin Syihab Az-Zuhri, sehingga beliau ini berkata, “Tidak ada seorang pun yang membukukan ilmu ini sebelum aku.”
As Sunnah karena banyak periwayatannya pada periode ini dan terputusnya segolongan ulama’ tabi’in karena riwayatnya tidak memperoleh perhatian untuk dibukukan. Namun hal ini tidak berlangsung lama, karena jumhur beranggapan bahwa sunnah itu meyempurnakan dan menerangkan Al Qur’an. Orang yang pertama kali memperhatikan kekurangan ini adalah Umar bin Abdul Aziz pada awal abad ke II H. Ia menulis kepada pekerjanya di Madinah Abu Bakar bin Muhammad bin Amr bin Hazm : ”Lihatlah hadist-hadist Rasulullah SAW atau sunnah beliau yang ada, kemudian tulislah karena sesungguhnya saya takut terhapusnya ilmu dan perginya (wafatnya) ulama’.-diriwayatkan oleh Malik dalam muwatha’ dari riwayat Muhammad bin Hasan-
D. Penulisan Sunnah era dinasti Bani Abasiyah dan Generasi Berikutnya
Periode ini adalah masa yang mulia bagi As Sunnah. Para perawi hadist memperhatikan atas wajibnya penyusunan dan pembukuan sunnah. Yang dimaksud dengan menyusun sunnah adalah mengumpulkan sunnah yang sejenis dalam satu judul, seperti hadist-hadist tentang shalat, puasa,dan lain sebagainya. Pemikiran ini timbul pada seluruh negara-negara Islam dalam kurun waktu yang berdekatan sehingga tidak diketahui orang yang memperoleh keutamaan dikarenakan lebih dahulu dalam penyusunan itu. Pada generasi-generasi selanjutnya penulisan hadist semakin terfokuskan, bahkan pemisahan antara hadist-hadist Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan pendapat para shahabat dan tabi’in mulai pula diperhatikan oleh kalangan Ulama Ahlul Hadist.
Imam Malik menuliskan kitab beliau Al-Muwaththa’ – yang masih bercampur antara hadist-hadist nabawiyah dan fatwa-fatwa para shahabat dan tabi’in, lalu sepeninggal beliau disusunlah sejumlah kitab-kitab Musnad yang memilah antara hadist-hadist nabawiyah dan fatwa-fatwa shahabat dan tabi’in, Abu Daud Ath-Thayalisi menulis kitab Al-Musnad, lalu Imam Ahmad bin Muhammad bin Hanbal juga menulis kitab Al-Musnad yang lebih luas dari pada kitab Abu Daud Ath-Thayalisi . Pada masa selanjutnya ditulislah kitab-kitab hadist lebih tertib, dan mengacu pada bab-bab yang lebih teratur, diantaranya Kitab As-Sunan yang ditulis oleh Abu Daud As-Sijistani, lalu Imam Muhammad bin Isma’il Al-Bukhori menyusun kitab ”Al-Jami’ Al-Musnad Ash-Shahih A-Mukhtashar fii Umuuri Rasulillah shallallahu ‘alaihi wasallam wa sunanihi wa ayyamihi“, yang lebih dikenal dengan nama Shahih Al-Bukhari, demikian pula Imam Muslim bin Hajjaj Al-Qusyairi menulis kitab, ”Al-Musnad Ash-Shahih”, dan beberapa ulama ahlul hadist lainnya menuliskan beberapa kitab hadist.
Imam Muhammab bin ‘Isa bin Saurah At-Tirmidzi menulis kitab As-Sunan, Imam Ibnu Majah juga menulis Kitab As-Sunan, Imam An-Nasa’I menulis kitab Al-Mujtaba yang masyhur dengan nama As-Sunan dan juga kitab As-Sunan Al-Kubro , Ad-Darimi menulis kitab As-Sunan, dan juga Ad-Daraquthni juga menulis kitab As-Sunan serta kitab Al-‘Ilal, Al-Baihaqi menuliskan kitab As-Sunan Al-Kubro dan kitab Ma’rifah As-Sunan wal-Atsar, Imam Al-Hakim menulis kitab Al-Mustadrok ‘ala Ash-Shahihain dan banyak lagi kitab-kitab hadist dituliskan, baik dalam bentuk As-Sunan, Al-Musnad, Al-Mushannaf, Al-Mustadrak, Al-Mu’jam, Al-Fawaid, juz-juz hadist sehingga hadist-hadist Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dapat terjaga hingga saat ini.
E. Penulisan Ilmu Mushthalah Hadits
Adapun penulisan ilmu Mushthalahul Hadist, secara tertib disebutkan bahwa yang pertama kali menyusunnya adalah Ar-Ramahurmuzi yakni Abu Muhammad Al-Hasan bin ‘Abdirrahman bin Khallad Ar-Ramahurmuzi Al-Qadhi, dalam kitab beliau Al-Muhaddist Al-Fashil baina ar-Rowi wal-Wa’i. Walaupun sebenarnya penulisan ungkapan-ungkapan ilmu mushthalahul hadist sudah dikenal sejak awal penulisan hadist, seperti ungakapan hadist shahih, hadist hasan, jayyidul hadist, al-ghorabah, hadist fard, pengenalan istilah sanad dan metode periwayatan, aturan-aturan dalam periwayatan. Dapat dilihat banya dalam ibarat Imam Ahmad bin Hanbal misalnya dalam kitab ‘Ilal wa Ma’rifah Raijal yang beliau tulis, atau soalan Imam At-Tirmidzi kepada Imam Al-Bukhori dalam Kitab Al-‘Ilal Al-Kabiir, Thabaqat ibnu Sa’ad juga mengutip tidak sedikit ishthilah-ishthilah hadist. Bahkan Kitab Ar-Risalah yang ditulis oleh Imam Asy-Syafi’I menjabarkan sejumlah istilah-istilah dalam ilmu Mushthalah hadist ini. Serupa dengan itu pula ibarat/ungkapan para shahabat dan generasi setelah mereka dalam meriwayatkan hadist, memberi penilaian pada para perawi, menjaga keotentikan hadist dan selainnya. Hal ini menunjukkan bahwa ilmu Mushthalah Hadist adalah ilmu yang telah ada bersamaan dengan adanya periwayatan dan penulisan hadist, bahkan acuan utama ilmu mushthalah hadist tiada lain pada amalan para salaf ahlul hadist yaitu ketika mereka berafiliasi dengan periwayatan hadist-hadist Nabawiyah dan atsar-atsar as-salaf.
Namun yang dimaksud, bahwa Ar-Ramahurmuzi adalah yang pertama kali mengumpulkannya dalam satu naskah yang ditujukan untuk mengkaji ilmu mushthalah hadist atau ‘ulumul hadist secara lebih tertib. Akan tetapi kitab beliau ini tidaklah mencakup keseluruhan bagian ilmu hadist yang ada, ini semua karena memang amalan ini adalah amalan yang pertama kali dilakukan oleh Ulama di zaman tersebut. Setelah beliau, Imam Abu Abdillah Muhammad bin Abdillah bin Hamdawaih Adh-Dhabbi Al-Hakim An-Naisaburi, menulis pula kitab tentang ilmu Mushthalah hadist ini yang beliau namakan Ma’rifah ‘Ulumul Hadist, namun beliaupun belum menyusunnya secara teratur, dan masih terdapat ketidak selarasan dalam beberapa bab permasalahan.
Lalu selanjutnya Al-Hafidz Abu Nu’aim Ahmad bin Abdullah bin Ahmad Al-Ashbahani menulis Kitab dalam bentuk Al-Mustakhroj, dari Kitab Al-Ma’rifah yang ditulis oleh Imam Al-Hakim. Beliau menamakan kitab beliau Ma’rifah ‘Ulumul Hadist ‘ala Kitab Al Hakim . Hanya saja masih diperlukan beberapa kajian ulang pada kitab ini, Setelah itu Al Imam Ahmad bin ‘Ali bin Tsabit bin Ahmad bin Mahdi Al-Baghdadi Abu Bakar Al-Khathib, menuliskan kitab yang menyusun aturan-aturan dasar periwayatan hadist yang beliau beri nama Al-Kifayah fii ‘Ilmi ar-Riwayah dan kitab lainnya tentang adab-adab periwayatan hadist yang beliau namakan Al-Jami’ li-adabis-Syaikh was-Saami’. Bahkan boleh dikatakan permasalahan/sub studi yang dijumpai dalam ilmu Hadist dan Mushthalah hadist, beliau telah memaparkannya dalam bentuk Kitab yang bersendiri, sehingga disebutkan bahwa tulisan beliau mencapai delapan puluh enam karya ilmiyah. Seorang ‘alim yakni Al-Hafidz Abu Bakar Muhammad bin ‘Abdul Ghani bin Syuja’ Al-Baghdadi Al-Hanbali mengatakan tentang perihal kitab-kitab Al Khathib Al Baghdadi : ” Bahwa setiap yang mau bersikap adil , akan mengetahui bahwa para ulama ahlul hadist sepeninggal beliau telah berkecukupan dengan kitab-kitab beliau.”
Kemudian para Ulama ahlul hadist, yang datang belakangan menuliskan beberapa kitab-kitab yang berisikan tentang ilmu Mushthalah Hadist ini, Al-Qadhi Iyadh bin Musa al-Yahshabi al-Andalusi menulis kitab Al-Ilma’ ila Ma’rifah Ushul ar-Riwayah dan Taqyiid as-Sima’, Abu Hafsh ‘Umar bin ‘abdil Madjid al-Qurasyi al-Mayanji menulis kitab Al-Iidhoh lima laa yasa’u Al-Muhaddist Jahluhu , lalu Al-Imam ‘Abdurrohman bin ‘Utsman Ibnu Shalah Abu ‘Amr menulis kitab beliau yang masyhur dan sangat penting dalam penulisan Ilmu Mushthalah Hadist yakni Al-Muqaddimah. Kitab Al-Muqaddimah inilah yang menjadi rujukan para Ulama setelah beliau, diantara mereka ada yang menyusun ringkasannya/mukhtashar, semisal An-Nawawi dalam Kitab Irsyad Thullabul Haqaaiq ila Ma’rifah Sunan Khairul Khalaaiq dan juga Kitab At-Taqriib wat-Taisiir li-Ma’rifah Sunan al-Basyir an-Nadziir , yang mana yang terakhir ini di syarah/diberikan penuturan dan penjelasan oleh Imam Asy Suyuthi dan beliau namakan Tadrib ar-Rowi.
Juga Ibnu Daqiqil’Ied merigkasnya dalam Kitab Al-Iqtiroh fii Bayanil – Ishthilah, Al Muhibb Ibrohim bin Muhammad Ath-Thabari dalam kitab beliau Al-Mulakhkhos wal- Burhan, Ibrohim bin ‘Umar Al-Ja’bari dalam kitab Rusumul Hadist, Al-‘Izz bin Jama’ah dalam Kitab beliau Al-Iqna’. Dan juga dikalangan Ulama ada yang memberikan koreksi dan tanggapan terhadap kitab Al-Muqaddimah ini, semisal Al-Hafidz ‘Abdurrahman bin Al-Husain Al-Iraqi dalam kitab beliau At-Taqyiid wal Iidhoh,Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Kitab beliau An-Nukat ‘ala Ibnu Shalah, Az-Zarkasyi dalam kitab An-Nukat , dan selainya. Sehingga akhirnya ilmu Mushthalah hadist ini, mendapatkan tempat dikalangan para Ulama dan thullabul ‘ilmi, dan sebuah ilmu yang tidak akan terpisahkan dari ‘Ulumul Hadist, bahkan merupakan salah satu yang terpenting dalam memahami hadist-hadist Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.
Wallahu’ A’laam bish showaab
Maraji’ :
– Daniel, Djuneid, Paradigma Baru Study Hadist, Banda Aceh : Citra Karya, 2002.
– Khatib, Muhammad Ajjaj, Al Sunnah Qobla al Tadwin, Beirut : Daar al Fikr, 1981.
– Al Asqalani, Ibnu Hajar, Tahdzib alTahdzib, Beirut: Daar Al Fikr, 1984 (program Maktabah Syamilah v.2.08).
– Al Baghdadi, Khatib, Taqyid Al Ilmi, http://www.alsunnah.com, (program Maktabah Syamilah v.2.08).
– Bik, Hudhari, Tarikh Tasyri’ Al Islamy-terj, Semarang: Darul Ihya’ Indonesia, 1980.
– Adz Dzahabi, Tadzkirah Al Huffadz, (program Maktabah Syamilah v.2.08).
http://www.cybermq.com/index.php?pustaka/list/4/
http://darel-salam.org/hadits/
http://www.pondoksantri.com/blog/?p=7

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s