Kilasan

Geliat Da’wah Etnis Tionghoa di Indonesia

[Ringkasan Materi Kuliah Kapita Selekta Da’wah

bersama H.M. Syarif Tanudjaja, SH. (Ketua Umum Divisi Pendidikan dan Da’wah PITI)]

Oleh : Muttaqin Salam

I. Pendahuluan

Secercah cahaya harapan muncul di tengah hiruk pikuknya dunia. Cahaya hidayah yang murni karunia Ilahy. Mungkin itulah kiranya sebutan yang pantas bagi saudara-saudara kita, etnis muslim Tionghoa Indonesia. Mereka rela berkorban apa saja demi Islam. Walaupun halangan dari tradisi leluhur yang sarat dengan kesyirikan dan pengkultusan begitu mengikat. Ditambah lagi tantangan dari pihak yang masih non-Islam. Oleh karena itu lewat pembahasan ini kita akan mengenal sekilas PITI, sebagai organisasi yang mewadahi da’wah di kalangan etnis Tionghoa di Indonesia. Islam adalah agama global, agama universal yang tidak mengenal etnis atau perbedaan apapun. Yang membedakan manusia di hadapan Allah U, hanyalah taqwanya. Tak luput, muslim Tionghoa ingin juga menggapai peringkat ini, mampukah mereka?

II. Sekilas Tentang Sejarah PITI (Persatuan Islam Tionghoa Indonesia)

Pembina Iman Tauhid Islam atau Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) didirikan di Jakarta, pada tanggal 14 April 1961, oleh almarhum H.Abdul Karim Oei Tjeng Hien, almarhum H. Abdusomad Yap A Siong dan almarhum Kho Goan Tjin bertujuan untuk mempersatukan muslim Indonesia dengan Muslim keturunan Tionghoa dan muslim keturunan Tionghoa dan etnis Tionghoa serta umat Islam dengan etnis Tionghoa. PITI adalah gabungan dari Persatuan Islam Tionghoa (PIT) dipimpin oleh Alm H.Abdusomad Yap A Siong dan Persatuan Tionghoa Muslim (PTM) dipimpin oleh Alm Kho Goan Tjin. PIT dan PTM yang sebelum kemerdekaan Indonesia mula-mula didirikan di Medan dan di Bengkulu, masing-masing masih bersifat lokal sehingga pada saat itu keberadaan PIT dan PTM belum begitu dirasakan oleh masyarakat baik muslim Tionghoa dan muslim Indonesia.

Untuk itulah, untuk merealisasikan perkembangan ukhuwah Islamiyah di kalangan muslim Tionghoa maka PIT yang berkedudukan di Medan dan PTM yang berkedudukan di Bengkulu merelakan pindah ke Jakarta dengan bergabung dalam satu wadah yakni PITI. PITI didirikan pada waktu itu, sebagai tanggapan realistis atas saran Ketua Pengurus Pusat Muhammadiyah almarhum KH Ibrahim kepada almarhum H. Abdul Karim Oei bahwa untuk menyampaikan agama Islam kepada etnis Tionghoa harus dilakukan oleh etnis Tionghoa yang beragama Islam. Pada tahun 1972, PITI mendapatkan surat dari jaksa agung yang menyatakan bahwa PITI terlalu bersifat eklusif dam fanatik (Etnis Tionghoa), maka pada tanggal 15 Desember 1972 PITI diganti menjadi Pembina Iman Tauhid Islam. Nama PITI tidak dirubah karena sudah terlanjur popular di kalangan etnis Tionghoa Indonesia.

III. Visi , Misi, dan Program PITI

Visi PITI adalah mewujudkan Islam sebagai rahmatan lil alamin (Islam sebagai rahmat bagi sekalian alam). Sedangkan Misi PITI didirikan adalah untuk mempersatukan muslim Tionghoa dengan Muslim Indonesia, muslim Tionghoa dengan etnis Tionghoa non muslim dan etnis Tionghoa dengan umat Islam. Adapun Program PITI ialah menyampaikan tentang (da’wah) Islam khususnya kepada masyarakat keturunan Tionghoa dan pembinaan dalam bentuk bimbingan, kepada muslim Tionghoa dalam menjalankan syariah Islam baik di lingkungan keluarganya yang masih non muslim dan persiapan berbaur dengan umat Islam di lingkungan tempat tinggal dan pekerjaannya serta pembelaan atau perlindungan bagi mereka yang karena masuk agama Islam, mempunyai masalah dengan keluarga dan lingkungannya.

IV. Islam dan Masyarakat Muslim Indonesia di Mata Etnis Tionghoa

Hingga saat ini, agama Islam tidak dan belum menarik bagi masyarakat etnis Tionghoa karena dalam pandangan mereka, agama Islam identik dengan kemunduran, kemalasan, kebodohan, kekumuhan, pemaksaan dan kekerasan (radikal dan teroris). Padahal agama Islam sudah masuk ke Tiongkok sebelum agama Islam masuk ke Indonesia dan saat ini sudah dianut oleh lebih kurang 80-100 juta umat. Bahkan, oleh sebagian ahli sejarah masuknya Islam ke Indonesia tak luput dari peran saudagar muslim Cina yang merapat di kepulauan Indonesia. Sesuai dengan visi dan misi serta program kerjanya, PITI sebagai organisasi dakwah sosial keagamaan yang berskala nasional berfungsi sebagai tempat singgah, tempat silaturahim untuk belajar ilmu agama dan cara beribadah bagi etnis Tionghoa yang tertarik dan ingin memeluk agama Islam serta tempat berbagi pengalaman bagi mereka yang baru masuk Islam.

V. Berbagai Kendala Da’wah PITI

Mengingat dari tradisi Tionghoa yang kental dengan nuansa syirik dan pengkultusan leluhur. Da’wah di kalangan mereka tak semudah membalikkan tangan, sebaliknya justru PITI menuai banyak halangan, setidaknya ada lima faktor sebagaimana yang diungkapkan oleh H.M Syarif, yaitu :

1. Cara pandang negatif etnis terhadap Islam dan penduduk pribumi yang terkesan malas, kumuh, dan kotor.

2. Etnis Tionghoa yang menjadi mualaf individual, sedangkan keluarganya masih berpegang teguh kepada agama leluhur (Konghucu).

3. Minimnya keteladanan dari generasi muslim Tionghoa sebelumnya, banyak yang sudah mualaf namun tidak mendapat bimbingan lanjutan.

4. Orientasi kalangan Tionghoa yang terlalu materialistis dan masuk Islam berarti siap miskin dan bersusah-payah.

5. Adat-istiadat keluarga yang terlalu mengikat, dan bertentangan dengan norma-norma Islam.

VI. Diskusi Seputar Etnis Muslim Tionghoa dan PITI

1. Berapakah jumlah etnis muslim Tionghoa di Indonesia ?

Wah, kalau diukur dengan angka agak susah mengingat etnis Tionghoa menempati seluruh kawasan Indonesia. Ada yang bilang mencapai 5 juta jiwa, tapi saya kira itu terlalu sedikit.

2. Apakah PITI diperuntukkan hanya untuk etnis muslim Tionghoa?

Istilah muslim Tionghoa digunakan semata-mata untuk alat atau strategi da’wah khususnya kepada masyarakat etnis Tionghoa. Sebenarnya PITI tidak hanya terfokus pada etnis Tionghoa saja, buktinya ada beberapa pengurus yang dari keturunan asli Indonesia. Dan saya kira siapapun dapat masuk ke PITI, asal ia muslim tentunya.

3. Bagaimana dengan program-program yang diadakan oleh PITI?

Mengenai program, kita punya juga pengajian setiap hari minggu jam 10.00 – jam 12.00 di Serpong. Lalu belajar membaca Al Qur’an juga hari minggu pukul 11.00 – 12.00 dan acara motivasi remaja Mustika pukul 09.00 – 11.00. Kita sengaja mengambil moment minggu karena selain hari itu kita sibuk berdagang dan berkarya. Adapun bila ada acara yang lain, maka harus dikorbankan, jika tidak lalu kapan ngajinya?

4. Bagaimana hubungan PITI dan ormas Islam lainnya?

Kita sudah banyak dan lama menjalin hubungan dengan ormas Islam lain, semisal GPI, FPI dan Dewan Da’wah baik dalam acara sosial atau keagamaan. Walaupun, program itu hanya sesekali namun saya kira sudah banyak juga.

VII. Penutup

Sejak didirikan sampai dengan saat ini, keanggotaan dan kepengurusan PITI bersifat terbuka dan demokratis, tidak terbatas (eksklusif) hanya pada Muslim keturunan Tionghoa tetapi juga berbaur dengan Muslim Indonesia. Ibarat sesosok tubuh manusia, maka “wajahnya adalah muslim keturunan Tionghoa”, bagian/ komponen tubuh lainnya adalah muslim Indonesia. Jika pada satu saat, karena kesepakatan anggota, kepanjangan PITI kembali menyandang/mempergunakan nama etnis Tionghoa pada nama organisasi ini, itu semata-mata sebagai strategi dakwah dan kecirian organisasi ini bahwa prioritas sasaran dakwahnya tertuju kepada etnis Tionghoa.

Apapun dan bagaimanapun kondisi organisasinya, PITI sangat diperlukan oleh etnis Tionghoa baik yang muslim maupun non muslim. Bagi Muslim Tionghoa, PITI sebagai wadah silahturahmi, untuk saling memperkuat semangat dalam menjalankan agama Islam di lingkungan keluarganya yang masih non muslim. Bagi etnis Tionghoa non muslim, PITI dapat jadi jembatan antara mereka dengan umat Islam. Bagi Pemerintah, PITI sebagai komponen bangsa yang dapat berperan strategis sebagai jembatan, penghubung antara suku dan etnis, sebagai perekat/lem untuk mempererat dan sebagai benang yang akan merajut persatuan dan kesatuan bangsa dalam bingkai Negara

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s