Tafsir

Muhkam dan Mutasyabih

Oleh : Muttaqin Salam, Salman Al Farisi, dan Muhammad Zaini

“Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepada kamu. di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, Itulah pokok-pokok isi Al qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat.”

(Ali-Imraan : 7)

A

llah menurunkan Al qur’an kepada hamba-Nya agar menjadi pemberi peringatan bagi seluruh alam. Ia menggariskan bagi makhluk-Nya aqidah yang benar dan prinsip-prinsip yang lurus dalam ayat-ayat yang tegas keterangannya dan jelas ciri-cirinya. Itu semua merupakan karunia yang agung bagi umat manusia, dimana Ia menerapkan bagi mereka poko-pokok agama untuk menyelamatkan aqidah mereka dan menerangkan jalan yang lurus yang harus mereka tempuh.

Pokok-pokok agama itu di beberapa tempat dalam Al qur’an terkadang datang dengan lafadz, ungkapan dan uslub (gaya bahasa) yang berbeda-beda tetapi maknanya tetap satu. Maka sebagiannya serupa dengan sebagian yang lain tetapi maknanya cocok dan serasi. Tidak ada kontradiktif di dalamnya. Adapun mengenai masalah cabang (furu’) agama yang bukan masalah pokok, ayat-ayatnya ada yang bersifat umum dan juga mutasyabih (samar-samar) yang memberikan peluang bagi para mujtahid yang handal dalam ilmunya untuk dapat mengembalikan maknanya kepada yang muhkam. Dengan cara mengembalikan yang furu’ (cabang) kepada masalah ushul (pokok), dan yang bersifat partial (juz’i) kepada yang bersifat universal. (kulli).

  1. Pengertian Muhkam dan Mutasyabih

1. Secara Bahasa

a. Muhkam = Menurut bahasa berasal dari kata حكم –يحكم –حكما yang berarti memutuskan dua perkara. Maka hakim adalah orang yang mencegah yang dzalim dan memisahkan antara yang hak dengan yang batil dan antara kebohongan dan kebenaran.[1]

Muhkam juga berarti (sesuatu) yang dikokohkan. Ihkam al kalam berarti mengokohkan perkataan dengan memisahkan berita yang benar dari yang salah, dan urusan yang lurus dari yang sesat. Jadi kalam muhkam adalah perkataan yang seperti itu sifatnya. Dengan pengertian inilah Allah mensifati qur’an bahwa seluruhnya adalah muhkam.[2] Hal ini ditegaskan oleh Allah dalam firman-Nya :

“Alif lam raa. (Inilah) sebuah kitab yang ayat-ayatnya dimuhkamkan, dikokohkan secara dijelaskan secara rinci, diturunkan dari sisi (Allah) Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.” (Huud : 1)

b. Mutasyabih, secara bahasa berati tasyabuh, yakni bila salah satu dari dua hal serupa dengan yang lain.[3] Sedangkan mutasyabih dalam Mu’jam Maqayis Al Lughah, adalah sesuatu yang menunjukkan adanya keserupaan sesuatu dengan yang lain baik warna atau sifatnya…sedangkan Al mutasyabihat dalam perkara adalah sesuatu yang mengandung kemusykilan.[4]

2. Secara Istilah

Mengenai pengertian muhkam dan mutasyabih terdapat banyak perbedaan pendapat. Yang terpenting diantaranya, sebagai berikut :

A. Makna Muhkam :

a. Muhkam adalah ayat yang mudah diketahui maksudnya.[5]

b. Muhkam adalah ayat yang maksudnya dapat diketahui secara langsung, tanpa memerlukan keterangan lain.[6]

c. Muhkam adalah ayat yang tidak mengandung ta’wil kecuali satu wajah.

d. Muhkam adalah sesuatu yang bisa dipahami secara akal.

e. Muhkam, yang didalamnya menerangkan sesuatu yang halal dan haram, fardhu, janji dan ancaman.[7]

f. Ali bin Thalhah meriwayatkan dari Abdullah bin Abbas : Yang dimaksud dengan al muhkamat adalah ayat yang menasakh, yang menunjukkan pada halal dan haram, khudud, dan faraidhnya, dan apa yang diperintahkan dan diamalkan. Baik Ikrimah, Qatadah, Dhahak, Muqatil bin Hibban, Ar rabi’ bin Anas, maupun Suddi mengatakan bahwa yang dimaksud dengan al muhkam adalah sesuatu yang harus diamalkan.[8]

B. Makna Mutasyabih :

    1. Mutasyabih yaitu hanyalah diketahui maksudnya oleh Allah sendiri.[9]
    2. Mutasyabih, ayat yang mengandung banyak wajah.[10]
    3. Mutasyabih tidak bisa berdiri sendiri kecuali direferensikan kepada selainnya.
    4. Mutasyabih adalah ayat yang mengandung kisah-kisah dan perumpamaan-perumpamaan.[11]
    5. Mutasyabih adalah ayat yang maknanya tidak jelas dan tidak tampak dilalahnya, baik dalam dirinya maupun dari penjelasan yang lain.[12]

Skema Ringkas Muhkam dan Mutasyabih

Makna

Al Qur’an

Muhkam

(Jelas Maknanya)

Mutasyabih

(Samar-samar atau hanya Allah Y yang mengetahui maksudnya)

An Nash

(Jelas dan menghilangkan penyerupaan)

Adz Dzahir

(Jelas, meskipun bukan makna yang asli)

Mujmal

(Makna diketahui setelah dijelaskan)

Mu’awwal

(Lafadz dapat dita’wil)

Musykil

(Tidak diketahui maknanya)

Organization Chart

B. Contoh Ayat-ayat Muhkam dan Mutasyabih

Para Ulama memberikan contoh-contoh ayat Muhkam dalam al qur’an dengan ayat-ayat nasikh, ayat-ayat tentang halal, haram, khudud, kewajiban, janji dan ancaman. Seperti berikut ini:

1. Firman Allah Y :

Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (An Nisa’ : 58)

2. Firman Allah Y :

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.” (Al Maaidah : 90)

Sementara untuk ayat-ayat mutasyabih, mereka mencontohkan dengan ayat-ayat mansukh dan ayat-ayat tentang asma’ Allah dan sifat-sifat-Nya, antara lain :

1. Firman Allah Y :

“(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah. Yang bersemayam di atas ‘Arsy”

(Thahaa : 5)

2. Firman Allah Y :

“ Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka, maka barangsiapa yang melanggar janjinya niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri dan barangsiapa menepati janjinya kepada Allah maka Allah akan memberinya pahala yang besar.” (Al Fath : 10)

3. Firman Allah Y :

Dan Dialah yang berkuasa atas sekalian hamba-hamba-Nya. Dan Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.” (Al An’am : 18)

Dan masih banyak lagi ayat lainnya. Termasuk di dalamnya permulaan beberapa surat yang dimulai dengan huruf-huruf hijaiyah dan hakikat hari kemudian serta tanda-tanda hari kiamat.[13]

C. Perbedaan Pendapat tentang Takwil Ayat-Ayat Mutasyabihat

Perbedaan pendapat tentang boleh tidaknya seseorang menafsirkan ayat-ayat mutasyabihat bermula dari perbedaan dalam membaca ayat 7 surat Ali Imran. Yakni pada kata “Wamaa Ya`lamu Ta’wiilahu illallah” apakah waqaf sampai di sini sehingga yang mengerti takwilnya hanyalah Allah Y. Atau kata itu bersambung pada kalimat setelahnya yang berbunyi “warrasikhuna fil `ilmi” yang berarti bahwa orang yang memiliki ilmu yang mendalam bisa juga ayat-ayat tersebut.

Pendapat yang menyatakan bahwa ayat itu waqaf, diikuti oleh demikian banyak Ulama, di antaranya: Ibnu Abbas, Ubay bin Ka`ab, Ibnu Mas`ud, sejumlah sahabat dan tabi`in lainnya. Di antara alasan yang mereka jadikan sandaran adalah bahwa Allah Y mencela orang-orang yang mengikuti mutasyabih dan menyifatinya sebagai “orang-orang yang hatinya condong kepada kesesatan dan berusaha menimbulkan fitnah”. Dari `Aisyah di sebutkan Rasululah r membaca ayat ini -surat Ali Imran :7- kemudian beliau bersabda jika kalian melihat orang yang mengikuti (mendalami) ayat-ayat mutasyabihat mereka itulah yang disinyalir Allah Y maka waspadalah terhadap mereka.[14]

Pendapat kedua menyatakan bahwa “wawu” adalah huruf `athaf . pendapat ini di pelopori oleh beberapa Ulama antara lain, Imam Mujahid. Pendapat ini juga merupakn pilihan Imam An Nawawi. Dalam syarh muslim-nya ia menegaskan bahwa pendapat itulah yang paling shahih karena tidak mungkin Allah Y menyeru hamba-hambanya dengan sesuatu yang tidak di ketahui maksudnya oleh mereka. Dua pendapat ini bisa saja kita sinkronkan dengan mengembalikan makna takwil pada porsinya. Beberapa ulama yang membahas secara detil menyatakan takwil dalam Al Quran di maksudkan untuk dua hal pertama takwil dalam artian hakikat sesuatu yang kepadanya pembicaraan di kembalikan. Kedua takwil dalam makna yang lain berarti tafsir, ta’bir atau bayan.

Dengan demikian menjadi jelaslah bahwa sebenarnya tidak ada perbedaan mendasar yang memperselisihkan kedua pendapat tersebut. Masalahnya hanya berkisar pada makna takwil. Memang banyak hal yang tidak semestinya kita takwilkan menurut kemauan kita sendiri dan menurut hawa nafsu kita atau sesuai dengan kecenderungan yang kita sukai. Sebab yang demikian akan mendapatkan ancaman Allah dan kita akan di golongkan pada orang-orang yang condong pada kesesatan.[15]

D. Pendapat Para Ulama’ dalam Ayat-ayat Mutasyabih tentang Asma’ dan

Shifat Allah Y

Madzhab Salaf : Setiap ayat yang berkaitan dengan asma’ dan shifat Allah diimani dengan makna yang hakiki (dzahir), adapun hakikat maknanya dikembalikan kepada Allah dengan tanpa ta’wil, karena ta’wil termasuk pengingkaran terhadap ayat-ayat Allah. Contohnya :

Firman Allah Y :

يَدُّ اللهِ فَوْقَ أَيْدِهِمْ ©الفتح : 10¨

“Tangan Allah di atas tangan mereka.” (Al Fath : 10)

Ulama Salaf menjelaskan lafadz (يدّ الله) adalah muhkam maknanya (tangannya Allah), tetapi hakikat tangan itu mutasyabih.

Madzhab Khalaf : Membolehkan ta’wil maknanya, karena makna lafadz (يدّ الله) adalah mutasyabih, karena itu mereka menta’wilkan makna “Tangan Allah” dengan qudrah (kekuasaan Allah).[16]

E. Hikmah dari adanya ayat Mutasyabihat

Ada kemungkinan orang bertanya : “mengapa Allah menjadikan mutasyabihat dalam kitab-Nya?”. “mengapa Dia tidak menjadikannya muhkam?” Jawaban untuk pertanyan diatas adalah sebagai berikut : sesungguhnya Allah telah menjadikan bagi manusia kekuatan berfikir dan alat pembeda. Dia telah menciptakan manusia memiliki keutamaan atas sebagian besar apa yang diciptakannya, dan Dia mengangkat mereka sebagai khalifahdi muka bumi.

Dengan kedudukan ini manusia menjadi mulia dan disifati dengan ilmu, kesabaran, hikmah dan beberapa sifat yang sebenarnya merupakan sifat Allah Y walaupun kita harus menyadari bahwa, sifat manusia sama sekali tidak mungkin sama dengan sifat Allah. Dengan diberikannya kekhususan berupa keutamaan ini, yakni daya pikir, daya pandang dan semua pemberian yang Allah Y berikan, Allah Y berencanan untuk menyempurnakan manusia dengan pikirannya itu agar tidak terjadi pembusukkan potensi. Sebab jika pikiran dan akal yang Allah Y karuniakan tidak difungsikan maka tidak akan ada faidahnya.[17]

Semua ini bertujuan untuk pemberdayaan karunia dan potensi yang ada agar mereka mampu melejitkan potensi itu pada batas yang maksimal dan agar tidak ada kemalasan berfikir dalam melakukan ijtihad.[18]

Wallahu ‘A’lam.

Maraji :

2 Al Qathaan, Manna’ Khalil, Studi Ilmu-ilmu Qur’an, (Jakarta : Litera Antar Nusa ), Cet. VI, 2001

2 Asy Syaukani, Muhammad Ali bin Muhammad, Fathul Qadir, (TT: Daar ‘Alam Al Kutub) Juz.1, TT.

2 Asy Syuyuthi, Jalaluddin, Al Itqan fi Ulum Al Qur’an, (Lahore: Daar Nasyr Al Kutub Al Arabiyah) Jil.II, TT.

2 Abul Fida’ Ismail bin Katsir, Imaduddin, Tafsir Al Qur’an Al Adhim, (Saudi Arabia : Daar Alaam Al kutub) Cet. II, 1997.

2 Jurnal Kajian Islam : Al Insaan, Vol.1 No. 1 Januari/2005.


[1] Manna’ Al Qathaan, Studi Ilmu-ilmu Qur’an, Hal.303.

[2] Ibid, Hal.303

[3] Ibid, Hal. 304

[4] Jurnal Kajian Islam : Al Insaan, Vol.1 No. 1 Januari/2005, Hal. 41 yang dikutip dari Qawaaid At Tafsir : Jam’an wa Dirasat, karya Khalid bin Utsman Al Sabt, (Saudi Arabia : Daar ibnu Affan), Jil. II, Hal. 660.

[5] Manna’ Al Qaathan, Op.cit. Hal. 305

[6] Ibid, Hal. 306.

[7] Jalaluddin Asy Syuyuthi, Al Itqan fi Ulum al qur’an, (Lahore: Daar Nasyr Al Kutub Al Arabiyah) Jil.II, TT, Hal. 1-3.

[8] Imaduddin Abul Fida’ Ismail bin Katsir, Tafsir Al Qur’an Al Adhim, (Suadi Arabia : Daar Alaam Al kutub) Cet. II, 1997, Hal. 425.

[9] Manna’ Al Qaathan, Op.cit. Hal. 305

[10] Ibid, Hal. 306

[11] Jalaluddin Asy Syuyuthi, Op.cit. Hal. 1-3.

[12] Muhammad Ali bin Muhammad Asy Syaukani, Fathul Qadir, (TT: Daar ‘Alam Al Kutub) Juz.1, TT. Hal. 314.

[13] Manna’ Al Qathaan, Op.cit. Hal.306-307.

[14] Ibid. hal.304

[15] Jurnal Kajian Islam : Al Insaan, Op.cit. Hal.46

[16] Disampaikan dalam pertemuan ke-3, kuliah materi Ulumul Qur’an oleh Ust. Ahmad Rafiqi, Lc.

[17] Jurnal Kajian Islam : Al Insaan, Hal. 49, yang dikutip dari Muqadimah Tafsir, Abul Qasim Al Hussain bin Muhammad, (Karachi : TT) Hal.176.

[18] Ibid, Hal. 49.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s