Ponari dan Kesyirikan

Sudah hampir sebulan dukun cilik Ponari membuka praktek di Jombang. Mereka datang hanya untuk mendapatkan air yang telah dicelup batu hijau. Kadang-kadang sulit otak ini untuk menalarnya, bagaimana kondisi masyarakat kita yang jauh lebih tertarik mengantri di rumah Ponari dari pada mengantri pengobatan di Puskesmas. Kondisi ini sebenarnya siapa yang salah, masyarakat atau pemerintah yang tidak dapat memberikan pengobatan kepada rakyatnya. Pengobatan yang dilakukan dapat menimbulkan kesyirikan apabila tidak didasari oleh keimanan.
Syirik merupakan dosa besar yang paling besar. Abdullah bin Mas’ud rodhiyallohu ta’ala ‘anhu berkata: Aku pernah bertanya kepada Rosululloh , “Dosa apakah yang paling besar di sisi Alloh?” Beliau shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Engkau menjadikan sekutu bagi Alloh, padahal Dialah yang telah menciptakanmu.” (HR. Bukhori dan Muslim)
Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash Radhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda : “Dosa besar itu adalah syirik kepada Allah, durhaka kepada kedua orang tua, membunuh jiwa seseorang, dan sumpah palsu” [HR. Al-Bukhari]
Begitu besarnya urusan ini, hingga Alloh Ta’ala berfirman kepada Nabi-Nya shollallohu ‘alaihi wa sallam, “Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu Jika kamu mempersekutukan Alloh, niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (Az Zumar: 65). Para Nabi saja yang begitu banyak amalan mereka diperingatkan oleh Alloh terhadap bahaya syirik, yang apabila menimpa pada diri mereka maka akan menghapuskan seluruh amalnya, lalu bagaimana dengan kita? Apakah kita merasa aman dari bahaya kesyirikan?
Pengobatan yang dilakukan Ponari merupakan kesyirikan, hal ini didasari oleh pernyataan ponari. Menurut Ponari, batu ajaib itu ditunggu dua makhluk gaib, laki-laki dan perempuan bernama Rono dan Rani. Dua makhluk gaib itulah yang selama ini  memberikan amanat kepada Ponari untuk menolong orang sakit melalui batu yang ditemukan pertengahan Januari lalu.
Kisah penemuan batu sebesar kepalan tangan anak-anak berwarna coklat kemerahan itu cukup dramatis dan bernuansa mistis. Ponari dalam ceritanya beberapa waktu lalu mengungkapkan, batu itu ditemukan secara tidak sengaja, yakni saat hujan deras mengguyur desanya.

Sebagaimana bocah-bocah seusianya, Ponari bermain-main di bawah guyuran hujan lebat yang sesekali diiringi suara geledek. Pada saat itu, lanjut Ponari, bersamaan suara petir yang menggelegar, kepalanya seperti dilempar benda keras.

Sejurus kemudian, Ponari merasakan hawa panas menjalar ke seluruh tubuhnya. Bersamaan itu, Ponari merasakan ada batu berada di bawah kakinya. Batu tersebut mengeluarkan sinar warna merah. Karena penasaran, batu itu dibawa pulang dan diletakkan di meja.
Menurut pengakuan pihak keluarga, batu sebesar telur ayam tersebut muncul ketika Ponari tersambar petir dua bulan lalu. Karena bentuknya yang aneh, batu itu sempat dibuang bahkan sampai tiga kali. Anehnya batu itu selalu kembali ke si empunya.
Entah apa yang mendorongnya, tanpa disuruh Ponari mengobati seorang tetangganya yang sakit panas tinggi dengan meminumkan air dari celupan batu berwarna kuning itu dan ternyata sembuh. Dari situlah, tersiar  kabar ada tabib sakti di Jombang. Ribuan orang menyambanginya setiap harinya, tak ayal membuat antrean mengular sepanjang 5 kilometer.

Aneh memang fenomena Ponari ini. Kehadirannya menjadi magnet luar biasa  kuat, tak hanya menarik perhatian bagi mereka yang mencari kesembuhan. Berbagai kalangan pun berkoar dengan beragam opini. Dari mulai warga  biasa, pejabat, polisi, politikus hingga pakar unjuk bicara.

sumber : http://nawwaf.wordpress.com/2009/02/13/kesyirikan-dan-pengobatan/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s