Jangan Nonton Film Cin(t)a! (2)

Masih tentang film Cin(t)a yang kontroversial, berikut ini cuplikan surat edaran (e-mail) dari MIFTA (Muslim Information Technology Asssociation) yang berisi kecaman tentang film tersebut :

Bersama surat ini, kami meminta perhatian serius dari Bapak selaku Ketua Lembaga Sensor Film, dan juga seluruh jajaran anggota dan sekretariat lembaga yang Bapak pimpin, mengenai telah diproduksi dan diedarkannya satu film dengan judul Cin(T)a dalam beberapa pekan terakhir ini. Film ini diproduksi dengan pendekatan independen, diedarkan juga dengan cara-cara “gerilya”, namun sudah mendapatkan perhatian dan sambutan yang cukup luas dari sebagian kalangan masyarakat.

Kami menyatakan keberatan atas peredaran film tersebut, dan karenanya kami meminta agar Bapak dapat mempertimbangkan keberatan kami ini dengan tidak memberikan surat lolos sensor untuk film tersebut, bahkan perlu Bapak pertimbangkan untuk menempuh langkah yang nyata dan segera agar peredaran film tersebut dapat dihentikan karena berpotensi menimbulkan keresahan bahkan pertikaian agama.

Kami mengajukan keberatan ini dilandasi pada dua hal utama, yakni: Dari segi muatan, film ini mengandung pesan, baik terselubung maupun yang ditampilkan secara terang-benderang, bahwa Islam dan Tuhan adalah sumber masalah. Film ini ingin memberikan pembenaran terhadap perkawinan beda agama (tokoh pria dari etnis Cina dan beragama non-Islam, tokoh wanita beragama Islam), padahal akidah Islam jelas-jelas melarang perkawinan dalam wujud yang seperti itu. Film ini sangat pretensius, ingin menyalahkan dan memojokkan Islam, serta menggugat berbagai hal yang berkaitan dengan akidah Islam. Dalam salah satu adegan ditunjukkan para tokoh utamanya mempertanyakan mengapa Allah menciptakan manusia beda-beda kalau Allah cuma disembah dengan satu cara.

Adegan lainnya bahkan dengan nyata menunjukkan pelecehan terhadap nama Anissa (yang menjadi nama tokoh utama wanita di film ini), dimana sang tokoh wanita mengucapkan dialog seperti ini:  “Udah tahu muka lu Cina, masih dikasih nama Cina.” (nama tokoh utama pria di film ini memang Cina). Lalu dijawab oleh si tokoh pria: “Tega kali Bapak kau, Sudah tahu muka kau perempuan, masih dikasih nama ‘perempuan’.” (maksudnya nama Anissa yang menjadi nama tokoh utama wanitanya, nama yang berasal dari bahasa Arab yang juga nama salah satu surat dalam Kitab Suci umat Islam, Al Qur’an, yang artinya perempuan).

Selain itu, ada adegan yang menunjukkan si pria sedang merayakan Natal, si wanita ikut di situ, ikut memberikan dukungan dengan penekanan bahwa semua agama sama. Ini dilengkapi pula dengan sejumlah cuplikan pengalaman pasangan beda agama (dari dunia nyata) yang lagi-lagi bertujuan utk meracuni remaja Islam (terutama remaja wanita) bahwa menjalin cinta dan kawin beda agama tidak dilarang oleh akidah Islam.

Jika belum dipotong oleh si sutradara (karena mendapatkan banyak protes saat penayangan yang berlangsung di London beberapa bulan lalu), ada juga adegan yg memperdengarkan lantunan ayat al-Quran(al-Baqarah 62).

Ini jelas dimaksudkan untuk meyakinkan penonton semua orang akan masuk surga, agama apa pun yang dianut. Penggunaan ayat ini jelas lepas dari konteks sesungguhnya dari ayat ini, karena memang diniatkan ingin mengaburkan orang Islam. Sepintas lalu, ayat ini bagaikan menyamakan semua penganut agama. Namun bukan itu makna sesungguhnya, jika dirujuk ke belasan ayat lainnya dalam Qur’an mengenai Yahudi dan Nasrani.

Dengan pesan seperti ini yang dikemas secara halus, pastilah ia akan menjadi medium yang sangat efektif untuk menggerogoti pilar akidah umat Islam, terutama dari kalangan remaja dan anak-anak muda yang tidak memiliki akar iman yang kokoh.

Singkat kata, film ini tampaknya memang dibuat dengan semangat untuk memojokkan dan melecehkan Islam. Kesan ini tampil kian kuat mengingat sutradara yang menggarap film ini beragama non-Islam (sutradara wanita, Sammaria Simanjuntak. Ini adalah film pertamanya).

Film dengan muatan sebagaimana yang diuraikan secara ringkas barusan jelas-jelas melanggar pedoman sebuah film yang layak lolos sensor berdasarkan ketentuan yang mengatur LSF, yaitu Undang-Undang No. 8 tahun 1992 tentang Perfilman, dan Peraturan Pemerintah No. 7 tahun 1994 tentang LSF. Pasal 18 dari PP No.7 tahun 1994 ini, misalnya, mengatur dengan tegas bahwa penyensoran dilakukan dengan memeriksa dan meneliti beberapa aspek, di antaranya aspek agama yang menempati posisi teratas. Aspek agama ini dijabarkan lebih jauh dengan merinci unsur-unsur yang dijadikan pertimbangan, yaitu:

a)       yang memberikan kesan anti Tuhan dan anti agama dalam segala bentuk dan manifestasinya;

b)       yang dapat merusak kerukunan hidup antar umat beragama di Indonesia; atau;

c)       yang mengandung penghinaan terhadap salah satu agama yang diakui di Indonesia.

Film ini jelas memenuhi seluruh ketiga butir di atas. Selain alasan agama seperti tertera di butir 1 di atas, film ini juga telah melanggar ketentuan hukum Indonesia sebagaimana yang diatur oleh Undang-Undang No. 8 tahun 1992 tentang Perfilman, (yang kemudian dijabarkan lebih rinci dalam Peraturan Pemerintah, antara lain PP No.6 tahun  1994 tentang Penyelenggaraan Usaha Perfilman dan PP No. 7 tahun 1994 tentang Lembaga Sensor Film).

Ketentuan hukum ini mengaturbahwa setiap karya audio-visual, sebelum ditayangkan untuk khalayak umum, haruslah mendapatkan tanda lolos sensor dari Lembaga Sensor Film. Kami telah memeriksa di situs web LSF, pada bagian film-film yang telah dinyatakan lolos sensor, dan film Cin(T)a ini tidaktermasuk di dalamnya. Dengan kata lain, film ini belum memperoleh surat tanda lolos sensor, sehingga tidak/belum dapat ditayangkan untuk umum. Namun pada kenyataannya film ini telah dipertunjukkan di sejumlah kesempatan yang dihadiri oleh umum, di antaranya:

a)       di London (April 2009, berlangsung di kampus School of Oriental and African Studies), dihadiri sekitar 200 penonton,sebagian besar kalangan akademisi dan aktivis liberal. Para kru pendukung film ini, termasuk sang sutradara, juga hadir. Acara pemutaran dilanjutkan dengan diskusi antara hadirin dan para kru pendukung film ini. Diskusi sempat berlangsung panas karena muncul protes keras dari sebagian penonton yang menilai muatan film ini telah menghina agamaIslam. Seusai acara pemutaran ini, Masyarakat Muslim Indonesia di Inggris sudah menyampaikan protes langsung ke pihak produser namun tidak ada langkah nyata dari pihak produser menanggapi protes tersebut.

b)       di Jogja Asian Film Festival (JAFF, 4-8 Agustus 2009). Pertunjukan di ajang festival ini berlangsung tanggal 5 Agustus, dihadiri sekitar 250 penonton, yang membeli tiket.

…………………………..

MIFTA (Muslim Information Technology Asssociation)

63 thoughts on “Jangan Nonton Film Cin(t)a! (2)

  1. hmm…, ya ya ya.., pasti telak nih si pengirim surat, wakakakakakakk. tp hebat buat para temen2 yg pikirannya tetep terbuka dan selalu positif. begitu donk anak2 indonesia yg cerdas, bukan KOLOT dan SEMPIT PIKIRANnya..
    pikir dulu panjang kali lebar kali tinggi sebelum melayangkan surat2 begitu..
    jgn cuma protes ttg film2 doank, tp protes donk prilaku2 yg NYATA terjadi di masyarakat. misalnya nih: kekerasan yg dilakukan FPI…
    apa itu sudah bagus tuh sikap yg seperti begitu? bukannya itu yg melecehkan agama Islam sendiri? ya kan?
    jadi sebelum kirim surat ke Lembaga Sensor Film Indonesia, mending kirim dulu ke Front Pembela Islam.., ya kaaaan?
    wassalam…

  2. TERSERAH APA KATA KAMU, BELUM TENTU UNTUK MIKIR BUAT BIKIN FILM KAMU BISA, TAPI NYINYIR DULUAN. LAKUKAN DULU UNTUK TUHAN MU BARU LAKUKAN UNTUK KAUM MU……….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s